"Pak, hidup anda itu terlalu banyak memikirkan orang lain. Anda pimpinan yang selalu pasang badan untuk bawahan. Nggak nolak setiap keluarga anda membutuhkan. Itu bagus, tapi sayangnya anda memaksa orang lain untuk mengerti anda. Giliran orang tersebut tidak mau mengerti. Anda marah dan memendam kekecewaan. Kecewa itu anda pupuk, anda tumpuk tiap hari sampai akhirnya mengganggu sistem imun dalam tubuh anda. Akibatnya, suplay oksigen dalam darah anda tidak mampu terserap oleh hati. Akibatnya, anda terkena diabetes dan harus hidup dengan kapsul obat".
(terdiam, mata si bapak berkaca seakan ingin mengalirkan air mata)
"Apakah yang saya katakan salah?"
"lanjutkan! sejauh mana anda tahu tentang saya?". Jawab si Bapak sembari mengepalkan tangan dan memasang wajah tegas.
"anda orang baik, anda marah ketika ada orang menjadikan anda bemper. Namun, anda nggak sanggup buat teriak. Anda pengecut! anda nggak pernah sanggup untuk membela diri. Anda berfikir Allah selalu membela anda. iya, anda benar. Tapi ingat, Allah tidak selalu memberikan semua yang anda minta. Allah berikan apa yang anda butuhkan. Meskipun, anda menolak pemberian tersebut".
"Anda Pengacara, anda saya minta untuk menyelesaikan perkara saya, bukan untuk menceramahi saya". Nada bicara si Bapak mulai meninggi.
"jawab satu pertanyaan saya. Mana yang anda pilih, perkara anda selesai atau masalah anda yang selesai". Sergap saya.
"saya pilih masalah saya selesai". jawab si Bapak tegas.
"Artinya, anda datang bukan untuk berperkara. Tapi, anda datang untuk menyelesaikan masalah. Jika memang begitu yang anda harapkan, meja hijau bukanlah jalan keluar. Karena saya yakin ketika hakim telah mengetuk palu keputusan, anda akan menyesali jalan yang anda tempuh".
"lalu apa yang harus saya lakukan?". tanya si bapak kemudian.
"Melalui Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW, Allah dawuh pada hambanya. Jika kamu marah, duduklah. Jika dalam posisi duduk kamu mesih marah, tidurlah. Dalam nash tersebut Allah berpesan supaya manusia mampu mengendalikan hawa dunia. Tidur atau berbaring yang dimaksud disana adalah melepaskan semua beban dunia untuk kemudian dikembalikan pada Allah Sang Maha Pencipta. Bagaimana caranya? Bersholawat pak.. bersholawat". jawab saya kemudian.
"kenapa saya harus bersholawat?". tanyanya kembali.
"Innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna 'alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ 'alaihi wa sallimụ taslīmā. Ini ayat cinta Pak. Ayat yang menggambarkan kecintaan Allah pada kekasihNya. Dengan banyak membaca sholawat anda akan tahu sebuah hakikat dibalik benar dan baik. Inget Pak ! Benar itu belum tentu baik, dan baik itu belum tentu benar".
"Anda menghakimi saya mas". Ucapnya lirih, disambung dengan aliran air mata.
Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/nicolagiordano-8243414/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=3357414">Nicola Giordano</a> dari <a href="https://pixabay.com/id/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=3357414">Pixabay</a>

Komentar