Barbahagialah anda karena memiliki anak yang sesuai dengan harapan. Dan, berbanggalah anda karena memiliki anak yang berbeda. Kenapa begitu ?
Begini, ketika anda memiliki anak normal. Anak yang mampu berinteraksi dengan sesama, penurut, baik pekertinya, berprestasi dan cerdas, saya yakin anda pasti bahagia.
Tapi, beda cerita ketika anda dianugerahkan seorang anak yang berlawanan dengan beberapa hal tadi. Saya yakin anda akan bersedih, bahkan mengutuk siapapun yang bisa dikutuk.
Melihat hal tersebut, anda akan melakukan berbagai cara supaya anak anda mampu seperti anak-anak pada umumnya. Mulai dari cara yang halus, keras, kasar, membuat aturan main dengan me list berbagai macam larangan ataupun membuat perbandingan.
Efektif ? mungkin! tapi tidak sedikit dari anak-anak tersebut yang kemudian terluka batinnya. Kemudian, dari luka batin tersebut menjadikan anak tidak terkontrol, menyakiti dirinya dengan cara berperilaku menyimpang atau bertentangan dengan norma-norma sosial. Menjadi orang lain dengan cara malas berinteraksi dengan keluarga terdekat bahkan pada ayah bundanya, dan merasa nyaman bergaul dengan begajulan.
Ketika sudah seperti ini, anda semakin drop, semakin tersiksa, menyalahkan keadaan, menghardik pasangan, membuat jurang pemisah dengan si anak untuk kemudian mempertanyakan keberadaan TUHAN atas segala permasalahan yang ditimbulkan oleh anak anda.
Pada momentum ini anda melupakan bahwa anak anda adalah sesempurnanya mahkluk yang diciptakan untuk kemudian dititpkan pada Anda. Sejatinya, anda mesti berbangga hati. Kenapa? karena anda orang terpilih. Tidak semua orang mampu mengemban tugas dan amanat untuk dititipi seorang anak yang dalam tanda kutip 'spesial'.
ingatkah anda sebuah dalil yang menyatakan bahwa seorang anak akan hidup berbeda dengan jaman orang tuanya. Atau, seorang anak itu terlahir suci lagi bersih, orang tuanyalah yang menjadikan anak itu muslim, majusi, kristiani, dsb.
Belum lama ini saya mendapat amanat untuk mendampingi seorang anak yang berhadapan dengan hukum. Tugas yang cukup spesial, karena saya tidak hanya mendampingi si anak dari ancaman pemidanaan tapi juga ikut bertanggung jawab untuk mengembalikan anak ini kejalan yang diajarkan Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Orang tua si Anak bertanya pada saya, "saya harus bagaimana untuk menghadapi anak ini ?".
Saya jawab, "cuma anda yang bisa menjawabnya, yang jelas Anak ini memiliki kecerdasan seperti halnya Ludwig van Beethoven, Steve Jobs, atau Bill Gates. Mungkin, anda tidak pernah tahu apa yang dia inginkan".
Orang tuanya lantas bilang, "yang dimaui oleh anak ini adalah bergaul dengan orang yang tidak punya masa depan".
Jawaban saya, "konservatif! pantas jika anak anda tidak pernah merasa nyaman dengan anda".
"lalu, apa yang harus saya lakukan supaya dia mau meninggalkan segala hal yang buruk?", tanyanya orang tuanya lagi.
"nanti saya carikan psikolog", jawab saya.
Sehari kemudian saya menghubungi seorang pemerhati keluarga, Pak Arief namanya. Dari pembicaraan via telpon poin yang saya dapatkan adalah krisis healing untuk orang tuanya.
Alasannya, jika orang tua mampu menyelami dunia anaknya, si anak akan merasa nyaman berada dilingkungan ayah bundanya yang pastinya mengajarkan hal-hal yang positif. Setelah kontak batin terjadi, kehidupan si anak In Shaa Allah akan selaras dengan ajaran Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Orang tuanya mesti sadar, bahwa makna dari dalil "orang tuanyalah yang menjadikan anak itu muslim, yahudi, nasrani, majusi dll", merupakan dalil untuk memberikan pendidikan akhlaq pada si anak. Karena akhlaq akan selalu berbanding lurus dengan akidah.
Kira-kira begitu, menyalahkan, menyudutkan dan atau menghakimi seorang anak sama saja kita sedang menggali kuburan sendiri.
Maka, berbanggalah mempunyai anak yang spesial. Berbahagialah mempunyai anak yang sesuai dengan harapan.
Membanggakan anak yang sesuai harapan justru akan membebani si anak dan menyakiti hati orang tua yang memiliki anak 'spesial'. Nggak perlu juga memberikan tips dan trik, karena jelas dunianya juga berbeda.
Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/nicolagiordano-8243414/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=3357414">Nicola Giordano</a> dari <a href="https://pixabay.com/id/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=3357414">Pixabay</a>

Komentar